Rabu, 04 Januari 2012

Zakat Bukan Suap (2/Habis)

oleh : Prof. Dr. Fauzul Iman




Dengan konsep zakat, Nabi Muhammad SAW bermaksud mengubah agar sistem pendistribusian atau pemilikan aset ekonomi tidak hanya mengalir ke kalangan elite sebagai halnya sesajen yang diberikan untuk menyuap dewa atau upeti kepada raja melainkan dinikmati pula oleh rakyat kecil ( Q.S 59 :7).
Dalam al-Quran rakyat kecil ini dikenal dengan kaum mustad’afin, terdiri dari delapan golongan antara lain ; fakir, miskin,, para mualaf, budak, dan Ibnu Sabil (Q.S. 9 : 60), Pada mereka inilah harta zakat dari orang orang yang mampu disalurkan dengan penuh ketulusan hati yang bertujuan membebaskan (mensucikan) harta (zakat mal) dan badannya dari kotoran dosa (zakat fitrah). (Q.S. 60 :103).
Dapat dibayangkan seandainya para muzakki seperti ini tumbuh subur di masyarakat kita, sudah barang pasti kondisi stabilitas keamanan masyarakat akan terjamin. Tidak akan muncul di dalamnya keserakahan pribadi, konflik masyarakat dan kejahatan kriminal yang dapat menggangu ketenangan dan kedamaian sosial. Kehidupan kini dan ke depan akan tampak beradab, sejahtera, maju dan sama sederajat. Tidak ada saling tekan dan jurang perbedaan antara si kaya dan di miskin.
Kita masih menaruh harapan optimis terhadap bangsa kita yang telah banyak berbuat baik untuk menzakatkan (mendermakan) sebagian hartanya ke pada kaum fakir miskin. Namun amat disayangkan dengan cara pembagiannya yang terkesan massif dan ugal-ugalan sehingga terjadi kekisruhan yang berujung nyawa umat manusia melayang. Misi dan tujuan zakat guna membangun masyarakat sejahtera dan beradab menjadi musnah dan tak bermakna.
Ironisnya di samping peristiwa tadi, masih didapati pula dari sebagian elit kita yang membayar zakat sebatas ingin menyenangkan Tuhan agar terbebas dari dosa semata (tathhir) tapi mengenyampingkan sisi pencerahan hidup (tazkiyyah) ke depan. Akibatnya mereka terbebani oleh sublimasi sesaat tanpa melakukan perubahan sikap hidup dengan berzakat (berderma) kembali dan melakukan kebaikan-kebaikan dengan konsisten. Perbuatan demikan jelas tak ubahnya seperti gaya amalan kaum primitif yang ingin menjinakkan dan menyuap Tuhan Dewa dengan cara mempersembahkan sesajen. Atau sama dengan memberikan upeti kepada raja-raja tiran karena takut dari bayangan kekuasaannya yang berwatak menindas.
Perilaku berzakat seperti ini bukan saja membahayakan kemaslahatan pribadi (tathhir) yang bersangkutan tetapi tujuan berzakat dalam upaya membangun kesejahteraan dan peradaban umat tidak akan tercapai (tazkiyyah). Oleh karena itu untuk meletakkan misi berzakat sesuai dengan maksud Allah, yaitu untuk membangun kemaslahatan umat manusia sebagai mahluknya, maka mengaplikasikan misi tathhir dan tazkiyyah (bersih diri dan pencerahan sosial) dalam berzakat amat diperlukan .
Guna mewujudkan misi pencerahan di atas, maka cara pendistribusian zakat yang masih terbawa arus primitif agar segera dicegah dengan kebijakan kontstitutif yang elegan. Sikap feodalisme keagaman yang masih menjadikan tokoh agama sebagai pusat penerima zakat dipandang tidak proporsional lagi karena dapat menghilangkan dimensi sosial dan terkesan merupakan perpanjangan tangan para dewa dan para raja (primitif). Pemberdayaan lembaga zakat baik oleh lembaga pemerintah maupun masyarakat yang kredibel (tathhir), professional dan terpercaya (tazkiyyah) masih tetap dibutuhkan (condition sine quanone).

Prof Dr H Fauzul Iman, MA
Penulis adalah Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN SMH Banten

LELAKI PEMALU, KUTU BUKU TAPI PUNYA SEGUDANG PRESTASI

oleh : Prof. Fauzul Iman


Sosok di majalah SiGMA edisi 37 kali ini adalah Dekan Ushuluddin Dan Dakwah (UShWah) IAIN Banten, yaitu Prof. Dr. H. Fauzul Iman, MA. Saat muda,Kemana pun dia pergi dia selalu membawa buku, ia juga sangat pemalu, apalagi pada perempuan, hal ini menjadi ciri khas dan kekaguman tersendiri bagi istrinya, yaitu Dra. Fatimah yang kini menjadi Badan Konsuling dan pengajar MAN 2 Serang.
Tidak hanya berdiskusi dengan mahasiswa, di rumah ia pun mengajak anak-anaknya berdiskusi, kadang-kadang beliau sengaja berbeda pemikiran dan pendapat dengan anaknya untuk mengeksplor sampai dimana pemikiran anaknya itu. Ia juga menularkan hobi baca dan menulis pada anak-anaknya, saat Risni kelas 6 pernah membuat dongeng karangan di hari Ulangtahun Darma Wanita ke-IV. Dongeng itu ternyata keluar menjadi juara pertama. Dalam menentukan acara rekreasi bersama, anak-anaknya pun lebih menyukai berekreasi ke tempat-tempat ilmiah atau natural seperti air terjun, kebun binatang, taman bunga daripada Dunia Fantasi atau hiburan lainnya.
Selain hobinya menulis karya ilmiah atau membaca buku, mantan Pembantu Dekan III bidang Kemahasiswaan (kemudian menjadi P.gs Pembantu Rektor III Bidang kemahasiswaan, saat peralihan status SAIN “SMHB” Serang, menjadi IAIN Banten) itu pun pernah menyabet beberapa penghargaan dalam bidang dakwah (pidato).
Prestasinya menurun pada anak-anaknya yaitu, Alfi Syahriani yang kini kuliah di Universitas Indonesia jurusan sastra Inggris.putri ke duanya ini, pernah beberapa kali memenangi lomba Pidato, terutama Pidato Bahasa Inggris. Satu hal yang paling membanggakan adalah, Piala Juara I Karya Tulis Ilmiah Perpustakaan Tingkat Provinsi dan Juara I tingkat Nasional yang dimenangi Alfi tahun 2006 lalu. “Tingkat Nasional, hadiahnya seperangkat computer Pentium 4 dan uang tunai 6 juta rupiah” ujar Ummi Fatimah.
Di usianya yang genap 49 tahun, lelaki berkacamata minus ini rutin olahraga tiap pagi dengan mengelilingi stadion. Berbeda dengan lelaki biasanya dia tidak merokok dan minum kopi. Meski kolesterolnya belum memasuki stadium tinggi, tapi ia menjauhi makanan-makanan berlemak . Sifat-sifat itu pun menurun pada anak lelakinya. Yang unik adalah, di setiap catatan sekolah, sebelum mencatat pelajaran, anaknya selalu menulis lafadz Bismillah, hal ini memang pesan Mamaknya agar ilmu yang dicari bermanfaat dan ingat bahwa mencari ilmu itu adalah ibadah, jadi niatnya pun harus lil’ibadah dengan mengucap nama Allah.

MEMPERTEMUKAN PEMIKIRAN TIMUR TENGAH DAN BANTEN LEWAT IRAN CORNER
Sebagai Dekan Fakultas USHWAH, beliau terbilang cukup berhasil. Iran Corner, sebuah perpustakaan full AC milik fakultasnya, adalah hasil kerjasamanya dengan ICC (Iran Corner Centre). Dengan dana sepenuhnya dari ICC, perpustakaan tersebut kini memiliki koleksi lebih dari 3000 judul buku ; pendidikan, sejarah, filsafat, umum, sastra dan budaya serta puluhan keping CD ilmiah yang bisa dinikmati lewat audio visual..
Ditemui di Iran Corner lelaki 3 anak ini mengatakan ia memilih bekerjasama dengan Iran karena Ushuluddin dan Dakwah secara akademik memang lebih banyak mempelajari filsafat dan tasawuf dari Iran. Jadi, tepat kiranya jika fakultas USHWAH menjalin kerjasama dengan Negara yang sangat kuat menjaga tradisi filsafat islamnya itu. “Banten sudah menjadi daerah kosmopolit, jadi harus terbuka dengan perkembangan luar. Kalau tidak, kita akan menjadi kerdil” tambahnya.
saat diminta tanggapan tentang fakultas lain, lelaki yang pernah diundang ke serawak Malaysia sebagai tamu kunjungan muhibbah dari rombongan IAIN ini, mengatakan bahwa Iran Corner hanya bagian kecil dari usaha untuk mengembangkan fakultas Uswah, “Saya yakin yang lain (fakultas tarbiyah, adab, Syariah dan Ekonomi Islam, red) akan lebih besar. Mereka lebih mampu dari kita.”

“Fakultas syari’ah dan Ekonomi Islam bisa saja mengembangkan fakultasnya dengan Negara perancis sedangkan fakultas tarbiyah dan adab dengan Negara inggris,” tembahnya. Akankah fakultas lain menyusul, bahkan melebihi?. Semoga saja iya.

ISLAM DI SPANYOL: KEMAJUAN ILMU, FILSAFAT, SAINS DAN SENI

Oleh : Prof. DR. FDauzul Iman





I. PENDAHULUAN
Ekpansi Bani Umayyah/Islam ke wilayah Sepanyol pada tahun 92 H/711 M di zaman Khalifah Al-Walid Abdul Malik 705-715 M. — sebagaimana dilakukan oleh Tariq Ibn Ziad — membawa applikasi yang sangat besar bagi perkembangan dan pembangunan wilayah tersebut. Sebagai diketahui, sebelum datangnya Islam, Sepanyol berturut-turut telah berada di bawah kekuasaan Romawi, Jerman dan penguasa Got. Ketika Sepanyol di bawah kekuasan Got masyarakatnya menduga bahwa negerinya akan terbebas dari ancaman, tetapi dugaan itu tidak dapat dibuktikannya karena penguasa Got tampil lebih menyeramkan lagi, ia bertindak paling kejam kepada orang-orang Yahudi dan melindungi orang-orang yang beragama Keristen.
Tindakan penguasa Got yang berat sebelah ini, membawa negeri Sepanyol terpuruk dalam jurang perbedaan sosial (social gap) yang tajam antara bangsa yang beragama Keristen dan bangsa yang beragama Yahudi sehingga boleh dikatakan dalam negeri ini sistim sosial kehidupaa terbelah ke dalam dua golongan; golongan bangsawan atau pemerintah terdiri dari pemeluk Keristen dan golongan rakyat biasa terdiri dari pemeluk agama Yahudi.
Di bidang kehidupan ekonomi, masyarakat di Sepanyol dapat dikelompokkan menjadi dua golongan; yaitu golongan kaya yang terdiri atas penguasa dan golongan miskin yang terdiri dari rakyat biasa. Kedua golongan ini terdapat perbedaan yang menyolok, karena hanya si kayalah yang bertindak sebagai tuan tanah yang selalu melakukan penindasan terhadap si miskin yang mencari makanan dan mengerjakan sawah milik tuan tanah.


Dalam kehidupan politik, masyarakat Sepanyol berada dalam kekacauan karena adanya pertikaian Yulian dan Ridrick. Di dalam sejarah digambarkan bahwa Redrick menodai anak Yulian yang cantik dan manis. Yulian merasa sakit hati atas ulah dan kekejian Redrick sehingga ia ingin membalas dendam kepadanya. Untuk memperkuat perlawanannya itu, Redrick meminta bantuan kepada umat Islam.
Kehadiran Islam dalam situasi masyarakat Sepanyol yang demikian menyedihkan, bukan sekedar diterima oleh Yulian  sebagai yang meminta dukungan melainkan melalui ajaran-ajarannya yang menekankan hidup saling menghormati antara sesama dan golongan, ia mampu mengembalikan citra kehidupan masyarakat Sepanyol ke dalam tatanan sosial yang baru; dari situasi kehidupan yang renggang (skretarianis) ke dalam kebersamaan yang kental (egaliter). Perubahan ini membawa implikasi baru/besar bagi upaya Islam kemudian dalam membangun masyarakat Sepanyol di bidang peradaban; agama, filsafat, sain dan seni. Makalah ini akan mencoba menelusuri dan mengungkapkan kemajuan Sepanyol di bidang peradaban tersebut.


II. KEMAJUAN ILMU AGAMA


Kemajuan Ilmu agama di Sepanyol ditandai oleh munculnya ulama- ulama kenamaan yang masing-masing membidangi disiplin ilmu agama. Di antara mereka tercatat ahli Hadis, ahli fiqh, ahli ilmu kalam dan ahli ilmu tasauf. Beberapa ulama Sapanyol yang terkenal di bidang Hadis ialah Ibn Hazm, Syekh Abdullah ibn Yasin, Muhammad Ibn Tumrat, Ya’qub al-Mansur, Abu ‘Amr Yusuf ibn Abd al-Barr, Abu al-Walid al-Baji, Abu Al-Walid ibn Rusyd, Ibn Ashim, dan Abu ‘Ali al-Husain ibn Ahmad al-Ghassani.
Ilmu fiqh berkembang di negeri ini,  apa lagi  setelah ulama Al-Awzai terkenal namanya di propinsi-propinsi Andalus (Sepanyol) di zaman Abdurrahman I. Kemudian disusul oleh munculnya murid-murid Imam Malik yang mengembangkan fiqih gurunya. Di antara murid Imam Malik yang terkenal ialah Abdul Malik Al-Sullami, Yahya ibn Yahya al-Laitsi, dan Isa ibn Dirar. Di zaman Hisyam (788-796 M) fiqh karangan Imam Malik  Al-Muatta  disalin dan disebarkan ke seluruh imperium.
Salah seorang murid Imam Malik yang dalam dan luas ilmunya, berwibawa dan disegani  sebagai sudahtersebut di atas  ialah Yahya ibn Yahya al-Laitsi. la dikenal sebagai ulama fiqh yang menjabat qadli al-qudlah. Yahya juga dikenal dengan fatwanya bahwa seseorang yang melakukan hubungan antara suami isteri di bulan Ramadhan, kafaratnya adalah puasa dua bulan berturut-turut. Fatwa ini ditujukan kepada Abdurrahman al-Nashir yang melakukan hal tersebut. Yahya tidak memfatwakan pendapat Imam Malik yang membolehkan memilih antara memerdekakan hamba sahaya dan puasa dua bulan berturut-turut. Yahya hanya melepaskan pendapat Imam Malik karena, menurutnya, bila ini yang difatwakan maka Amir tiap hari akan melakukan hubungan suami isteri di siang hari Ramadhan, sementara membebaskau hamba sahaya bagi Amir bukanlah beban hukuman yang dianggap memberatkan.
Isa ibnu Dinar juga dikenal sebagai faqih yang luas pandangannya dan banyak menghasilkan karangan buku di bidangnya. Diantara buku yang pernah ditulisnya ialah Al-Hidayah. Buku ini dinilai oleh lbn Hazm sebagai fiqh madzhab Maliki yang terbaik, sedangkan penduduk Sepanyol memandang karya fiqh Ibn Dinar sebagai yang terluas dan dalam isinya dari pada fiqh Yahya al- Laitsi. Adapun ulama fiqh yang sangat terkenal di negeri ini ialah Ibn Rusyd dengan karya monumentalnya Bidayah al- Mujtahid.
Di bidang ilmu kalam terkenal namanya Ibn Hazm, ia banyak me-ngoreksi dan menyanggah pendapat-pendapat Islam dan ilmu kalam Mu’tazilah, Asy’ariah, Khawarij, Murjia’h, Syiah dan ilmu kalam lainnya. Ibn Hazm terkenal sebagai ulama yang besar andilnya dalam memurnikan aqidah sehingga gebrakan pemurniannya tidak hanya tertuju kepada aliran-aliran Islam  sebagai disebut di muka serangan yang paling keras diarahkan kepada faham Yahudi dan Nasrani. Philip K. Hitti menyebutnya sebagai ulama besar di Sepanyol yang berfikir paling orisinil.
Ilmu agama lain yang turut mewarnai di negeri ini (Sepanyol) ialah tasawuf. Di antara tokohnya ialah Ibn Masarrah (296 M), seorang keturunan Qordova yang berfaham mu’tazilah. Ia tidak meyebarkan faham mu’tazilah ini ke masyarakatnya karena faham ini masih asing di hati mereka. Ibn Masarrah telah mewariskan ilmunya ke murid-muridnya ialah Al-Hasyimi, Abu Bakr Muhammad dan Muhyidin ibn Arabi. Nama yang terakhir ini sufi besar dengan konsep tasawufnya wahdah al-wujud.


III. KEMAJUAN ILMU BAHASA
Kemajuan di bidang ilmu bahasa yang meliputi philology(ilmu bahasa), gramer dan lexicograhy, menurut Philip K. Hitti, tidak selengkap sebagaimana yang pernah berkembang di Irak.Namun upaya pembukuan yang mencatat tokoh-tokoh kenamaan di bidang ilmu bahasa telah dilakukan oleh Ibn Hasan al-Zubaydi, murid al-Qalli, berketurunan Him dan dilahirkan di Seville. Upaya pembukuan itu dilanjutkan secara ektensive (lengkap) oleh Sayuthi dalam kitabnya Muzhir.
Perkembangan llmu bahasa di Sepanyol memang tidak selengkap di Irak, akan tetapi, di negeri ini masih dapat disebutkan adanya beberapa ahli ilmu bahasa yang terkenal ialah Abu Ali al-Qali, Abdurrahman al-Mashir, al-Hakam al-Mustansir dengan kar-yanya Al- Kamil Fi il-Lughhah dan Al-Amali, dan Yahya ibn Daud (Judah ben-David), seorang ahli tata bahasa yang beragama Yahudi.


IV. KEMAJUAN BIDANG SAINS DAN FILSAFAT
Sain dan filsafat merupakan dua bidang peradaban yang sama-sama berkembang dengan pesat di negeri Sepanyol. Perkembangan dua bidang; sains dan filsafat ini tidak hanya kegiatan keilmuan saja tetapi juga sangat erat dengan kebutuhan kehidupan manusia pada waktu itu. Oleh karena itu, munculnya ahli astronomi, ahli tumbuh-tumbuhan, ahli kedokteran dan ahli filsafat –seperti halnya sekarang — kehadirannya sangat berguna tidak saja alat untuk mengetahui tetapi juga dapat menjaga eksistensi dan martabat kehidupan manusia.
Sebagai contoh bergunanya sains bagi pengetahuan manusia di zaman Islam Sepanyol, seperti diungkapkan oleh Philip K. Hitti bahwa para ahli astronomi Sepanyol meyakini adanya penga-ruh bintang (astral) bagi peristiwa kematian dan kelahiran di muka bumi. Ilmu astronomi juga digunakah oleh mereka untuk mengetahui letak dunia di antara garis lintang dan garis bujur.
Di antara ahli astronomi Sepanyol yang paling masyhur waktu itu ialah al-Majriti (1007) dari Cordova, al-Zarqali (1629-1087) dari Toledo dan Ibn Aflah (1140) dari Seville. Al-Majriti adalah salah seorang pakar sains muslim Sepanyol yang telah dengedit dan me-ngoreksi tabel-tabel perbintangan Al-Khawarizmi. Di bidang ilmu tumbuh-tubuhan dan pengobatan telah dikembangkan juga di Sepanyol. Muslim Sepanyol telah berhasil menjadi peneliti di dalam mengamati segi perbedaan tanam-tanaman dengan tepat, misalnya perbedaan antara pohon palm dan pohon rami. Mereka (para peneliti muslim) memerinci (mengkelasifikasi) tanam-tanaman yang tumbuh dari cangkokan, dari benih dan yang tumbuh secara sepontan. Di antara peneliti yang pernah membuktikan hal tersebut ialah Ibn Sab’in ketika menjawab pertanyaan raja Frederick.15) Karena bahan-bahan pengobatan itu berasal dari tumbuh-tumbuhan, para dokter seperti al-Ghafiqi dan Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad  menghimpun tanam-tanaman itu dan masing-masing diberi istilah dari bahasa Latin, Berber dan Arab, kemudian untuk memahaminya dari bahasa asing tersebut dengan bahasa Arab. Istilah-istilah itu terhimpun dalam karya utamanya Al-Adawiyah Al-Mufradah.
Ahli botani yang paling populer di Sepanyol sebagai penerus sebelumnya ialah Ibn Al-Bayyat. Ia dilahirkan di Malaga dan sering melakukan perjalan-an ilmiah di Afrika Utara dan Mesir. Di Mesir ia bertemu dengan seorang ahli botani yang bernama Ayub Al- Kamil. Ia meninggal dunia pada tahun 1248 di Damaskus, karya- karyanya diabadikan oleh temannya al-Salih al-Ayub. Salah satu dari karya-karyanya yang terkenal Al-Mughni Fi al- Mufradah.
Pakar lain di bidang sains ialah Ibn Abi Al-Shalt, dan Al-Abbas ibn Farnas. Ibn Abi Al-Shalt dikenal sebagai ahli mesin, sedangkan Ibn Farnas dikenal sebagai ahli astronomi, matematik, seni dan ahli musik. Iba Farnas pernah melahirkan ide bagaimana caranya agar manusia bisa terbang seperti burung dengan sayap buatan. Di bidang ilmu bumi yang terkenal dengan perlawatannya ke berbagai negara ialah Ibn Jubair dan Ibn Bathuthah, sedangkan yang tercatat sebagai ahli sejarah ialah Ibn Habib, Ibn al- Quthiyah, dan Ibn Hayyan, Ibn Syakwal, Ibn al-Abbar dan Ibn Abd Al-Barr.17)
Kemajuan di bidang ilmu filsafat di negeri Sepanyol ditandai oleh lahirnya tokoh-tokoh kenamaan filosuf antara lain; Ibn Bajah, Ibn Tufail dan Ibn Rusyd. Ibn Bajah dilahirkan di Saragosa pada tahun 1138, beberapa tahun ia menetap di Seville dan Granada. Ia meninggal di kota Fez karena diracun oleh musuh-musuhnya, karyanya yang terkenal ialah The Rule of the Solitary. lbn Bajah dikenal sebagai ahli matematika, astronomi dan musik. Karya filsafatnya menjelaskan pemikiran Aristoteles. Ibn Thufail mengakui bahwa Ibn Bajah adalah seorang filosuf yang cerdas dan jauh pemikirannya.
Ibn Thufail di barat dikenal dengan Abubacer; ia lahir di Granada. Pada awalnya ia menekuni bidang kedokteran kemudian tertarik dengan ilmu filsafat. Karya monumentalnya yang paling populer ialah Hayyun ibn Yaqdhan, sebuah roman filosofis yang kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Sepanyol, Perancis, Inggris dan Jerman. Ibn Thufail sangat dekat dengan Abu Ya’qub Yusuf, Khalifah Dinasti Muwahiddin karena menjadi penasehat dan dokter peribadinya.
Ibn Rusyd adalah filosuf besar yang sangat berpengaruh di barat, dilahirkan di Cordova pada tahun 1126, di Eropa dikenaldengan nama Averroes. Ia juga ahli di bidang asronomi dan kedokteran. Lingkungan keluarganya sangat mencintai ilmu pengetahuan, diantaranya ada yang menjadi ahli teologi dan qadhi. Ibn Rusyd telah berjasa membuat ringkasan dan tafsiran-tafsiran filosuf Yunani. Karya filsafatnya yang paling utama ialah al- Tahafut dan Fasl Al-Maqal. Buku yang pertama ditulis sebagai jawaban terhadap serangan Al-Ghazali di dalam bukunya Tahafut al- Falasifah.


V. SASTRA DAN ARSITEKTUR
Sepanyol dengan pusat kebudayaannya di Cordova tak dapat disangsikan lagi, namanya telah terkenal di seluruh dunia. Di samping telah melahirkan pakar sains dan ilmu agama, yang pengaruhnya sangat besar  khusus bidang sains di Eropah, juga telah mengembangkan bidang seni budaya yang meliputi seni bahasa, seni rupa seni bangun, seni suara dan seni musik.
Di bidang puisi di negeri Sepa-nyol  telah bermunculan para penyair antara lain Ibn Abd Rabbih, Ibn Darraj, Ibn Hani Al- Andalusi, Ibn Syuhaid, Ibn Abbad dan Ibn Quzman. Di bidang seni bangun, Islam di Sepanyol telah mewariskan bangunan dengan gaya arsitektur yang indah dan unik. Bangunan itu dikenal dengan istana Alhambra terletak di Granada di halamannya terdapat tanam- tanaman dan air mancur yang indah dan menyenangkan. Penampilan/gaya arsitektur Islam di Sepanyol ini, hingga sekarang masih ditiru oleh orang-orang Eropa.21)


VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG KEMAJUAN ISLAM DI SEPANYOL
Ada dua hal yang mejadi patokan untuk menganalisa faktor-faktor yang mendorong Islam Sepanyol di bidang peradaban yaitu; (1) Kondisi Khilafah Bani Umayyah di Damaskus, (2) Masa-masa Khalifah Bani Umayyah di Sepanyol. Kedua hal ini secara singkat akan dijelaskan;
1) Kondisi Khilafah Bani Umayyah Di Damaskus
Ketika Bani Umayyah melakukan ekpansi ke Sepanyol, kondisi kerajaannya sedang berada pada puncak kejayaan. Pada masa ini puncak kekuasaan kerajaan dipegang oleh Walid bin Abdul Malik (685-709 M). Di tangan Walid pembangunan di bidang eko-nomi, sosial, politik dan militer telah dijalankan dengan baik dan mapan. Sebagai bukti dari keberhasilannya itu ialah pembangunan besar-besaran di kota suci Madinah, perluasan masjid Madinah dan membuat jalan-jalan yang memudahkan naik haji ke Makkah. Di bidang militer, Walid telah berhasil mengkonsolidasinya sehingga ia memiliki jendral-jendral yang tangguh dan berani.22) Di zaman ini pula, tercatat adanya para ulama yang memiliki keahlian di bidang ilmu agama.
Kejayaan ini, secara psihologis dalam menutup rasa gengsinya  mendorong kerajaan ini memenuhi permintaan Yulian melakukan ekspansi ke Sepanyol. Karena rasa gengsi ini terdorong oleh ajaran Islam dalam mengemban misi da’wah, maka yang mendatangi ke Sepanyol adalah para militer bersama-sama dengan para ulama. Di antara para ulama yang mendarat ke Sepanyol ialah; dari kalangan sahabat tercatat antara lain Al-Munzir, sedangkan dari tabiin tercatat nama-nama; Musa ibn Nushair al-Fatih, Ali ibn Rabah, dan Hanasy ibn Abdillah al-Shana’ni.
Gambaran di atas mengisyaratkan bahwa sebelum Bani Umayyah mendatangi ke Sepanyol, secara sosiologis, ia sudah mempunyai peran ekonomi dan basis ilmu pengetahuan khususnya ilmu agama. Oleh karena itu, kehadiran Bani Umayyah di Sepanyol, tidak dapat diragukan lagi,  apa Iagi dengan para ulamanya  membawa peranan penting bagi peradaban Islam di Sepanyol.


2) Masa-masa Khalifah Bani Umayah di Sepanyol 
Faktor-faktor yang mendorong majunya peradaban Islam pada masa- masa Khalifah Bani Umayyah di Sepa-nyol ialah sikap dan perhatian sebagian khalifah itu sendiri terhadap rakyatnya di dalam membangun pendidikan (ilmu pengetahuan), dan menciptakan persaudaraan bersama. Di antara khalifah itu adalah Abdurrahman I (756-788 M), Hisyam (788-796 M.), Abdurrahman II (822-852), Muhammad I (852-886 M), dan Abdurrahman III (912-961 M).
Abdurrahman I telah berjasa menjadikan Cordova sebagai pusat ilmu dan kebudayaan sehingga di istananya banyak didatangi oleh para pujangga. Hisyam mendorong para peneliti teologi untuk melakukan perjalanan ke Madinah guna mempelajari ajaran-ajaran Maliki. Abdurrahman II merangsang kepada para penyair, musisi dan seniman dengan memberikan hadiah-hadiah. Muhammad I dikenal sebagai penyokong dan pencinta ilmu. Dia sendiri adalah penyair, penulis dan orator. Abdurrahman III bukan saja sebagai pencinta ilmu dan pembangun eko-nomi, malah ia telah berhasil melebur ras suku, dan agama dalam satu kesatuan (konvergensi) dan toleransi.

Kamis, 29 Desember 2011

Umat

oleh : Fauzul Iman 



Kata umat, seperti disebut ar-Raghib al-Ashfihani dalam bukunya Mu'jam Mufradat Alfadz Alquran, diartikan sebagai ''semua kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, seperti agama yang sama, waktu atau tempat yang sama baik penghimpunannya secara terpaksa maupun atas kehendak mereka''. Definisi ini tampaknya ingin menjelaskan pengertian (cakupan) umat tidak hanya menunjuk kepada kelompok agama tertentu tetapi juga kepada agama lain.
Alquran dan Hadis sendiri menggolongkan makhluk binatang ke dalam kategori umat. Tiada satu burung pun yang terbang dengan kedua sayapnya kecuali umat-umatmu juga seperti kamu (Q. S. 6: 38). ''Semua yang berkeliaran,'' sabda Nabi SAW, ''adalah juga umat dari umat-umat Tuhan'' (H.R. Imam Muslim).
Selain kelompok umat di atas, Alquran menyebut seseorang yang terkumpul dalam dirinya sifat-sifat terpuji, seperti Nabi Ibrahim sebagai umat. Sementara Rasulullah juga menggolongkan manusia-manusia yang durhaka kepada agama sebagai umat. ''Semua umatku masuk surga kecuali yang enggan,'' kata Nabi SAW (H.R. Bukhari).
Kata umat di dalam Alquran disebut sebanyak 52 kali dalam bentuk tunggal. Al-Damighani dalam kamus Alqurannya memerinci sembilan pengertian kata umat yang terdapat dalam Alquran, yaitu: kelompok, agama (tauhid), waktu yang panjang, kaum, pemimpin, generasi silam, umat Islam, orang-orang kafir, dan seluruh umat manusia.
Semua pengertian umat yang terungkap dalam tulisan ini, menunjukkan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang luwes, terbuka dan moderat, yang dapat menampung sekian himpunan umat yang hidup di bumi ini. Umat Islam, menurut Alquran, adalah Ummatan Wasathan (Q.S.2:143). Yusuf Qardawi dalam bukunya Al Khashais al-Ammah li al-Islam menjelaskan pengertian wasathan sama dengan tawazzun, yaitu keseimbangan antara dua arah atau jalan yang saling berhadapan atau bertentangan; tidak terpengaruh oleh kepentingan individu, kelompok, ras dan suku. 
Dengan demikian, Ummatan Wasathan adalah umat yang adil, toleran, senang berdialog, mau hidup rukun dan tidak bersikap ekstrem yang dapat memicu lahirnya konflik pribadi dan masyarakat. Ummatan Wasathan juga berarti umat yang posisinya selalu berada di tengah yang dapat dilihat oleh semua pihak. Mereka menjadi syuhada dalam arti saksi dan sekaligus disaksikan.
Mereka adalah umat yang harus mampu menjadi teladan bagi yang lain dalam menegakkan keadilan, membela kebenaran, dan melenyapkan tindakan kekerasan, keterbelakangan, dan kemiskinan umat. Karena itu, dalam konteks negara kita yang sangat heterogen -- terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama -- sudah barang tentu Islam senantiasa menempatkan perbedaan dan keanekaan ini dalam posisi umat yang potensial untuk diajak bersama-sama membangun bangsa dan menegakkan kebenaran Ilahi di muka bumi. 

Demonstrasi

Oleh Prof Dr H Fauzul Iman MA


 
Demonstrasi dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah muzhaharah. Kata dasarnya adalahzhaahara yang artinya menunjukkan fakta. Dilihat dari makna kata dasarnya, tersimpul pengertian bahwa demonstrasi adalah aksi untuk menunjukkan fakta dan data-data akurat yang disertai argumentasi yang kuat.
Dalam bahasa agama, demonstrasi seperti ini disebut dengan al-burhan. Ibnu Taimiyah memahami kata al-burhan dengan bukti-bukti yang didemonstrasikan secara empiris. Firman Allah SWT, "Katakanlah (hai Muhammad), tunjukkanlah bukti-bukti kebenaranmu jika kalian termasuk orang yang benar." (QS Albaqarah [2]: 111).
Ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang Yahudi dan Nasrani yang mendebat Nabi SAW. Orang-orang tersebut mengklaim dirinya yang paling baik dan akan masuk surga. Namun, mereka tidak mampu menunjukkan bukti-bukti yang kuat sehingga klaimnya dinilai Alquran sebagai angan-angan kosong (amani).
Berdasarkan ayat ini, kita boleh saja berdemonstrasi untuk menuntut hak, menyampaikan aspirasi, atau melontarkan kritik kepada pemerintah, baik melalui tulisan, turun di jalan, forum dialog, maupun seminar. Namun, semua itu harus disampaikan dengan cara-cara yang beradab.
Akhir-akhir ini, kita sering menyaksikan betapa maraknya aksi demonstrasi di negeri ini. Sebagian dilakukan dengan cara-cara elegan dan damai. Namun, sebagian lainnya dilakukan dengan kekerasan. Cara-cara kekerasan dalam berdemonstrasi jelas sangat berbahaya. Karena, selain mengancam persatuan bangsa, juga melanggar prinsip demokrasi itu sendiri. Bahkan, melanggar norma-norma agama.
Karena itu, mari kita mengambil pelajaran dari Allah SWT saat memerintah Musa AS untuk mencegah ulah Firaun yang membahayakan masyarakat di negerinya. Dalam misi besarnya itu, Musa diperintahkan untuk berkata lembut dan sopan. Firman-Nya, "Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Firaun. Sesungguhnya, dia telah melampaui batas. Maka, berkatalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS Thaha [20]: 43-44).

Ramadhan Emansipatoris

Oleh :  Prof Dr H Fauzul Iman, MA 





Bulan Ramadhan sebagai bulan suci, kehadirannya tidak dapat disangsikan telah mendapat sambutan yang begitu semarak oleh kaum muslimin baik dalam level dunia maupun level nasional.
Khusus di negeri kita hampir semua komunitas muslim menyambutnya dengan tingkat mobilitas kegiatan keagaman yang amat berbeda dengan bulan bulan biasa. Utamanya menyangkut antusiasisme aktifitas keagamaan yang dilakukan, tampak kepermukaan menonjol. Tidak saja dalam kegiatan-kegiatan yang sekalanya terbatas pada space sosial tertentu tetapi juga kerap pada kegiatan keagamaan yang melampaui batas lintas kultur. 
Dalam space tertentu sebut saja, misalnya, yang paling normatif adalah salat jamaah tarawih bersama, kontemplasi ibadah melalui tahajud, i’itikaf, kultum, buka bersama, bazar amal, dan diskusi-diskusi keagamaan. Sementara yang sifatnya paling kongkrit adalah gerakan pengumpulan zakat, infak dan sedekah baik oleh lembaga resmi maupun oleh lembaga soaial yang didirikan di masjid-masjid. Bahkan dalam bulan Ramadhan ini, tidak jarang diadakan pula kegiatan yang bersifat dialog keagamaan dengan melibatkan pemeluk agama non muslim untuk diajak bersama memecahkan problem sosial keagamaan. 
Pada batas yang paling formal antusiasisme keagamaan di atas, amat baik setidaknya umat Islam secara simbolik telah meletakkan keagungan Ramadhan sebagai syiar. Artinya umat Islam mampu mendeklarasikan Ramadhan di tengah-tengah umat dengan eneka kegiatan dan dengan pesertanya dalam jumlah massif. Tegasnya Ramadhan berhasil digerakkan umat menjadi media kolektif (bersama) dalam memperoleh inspirasi (pelajaran) agama, menggagas dan memecahkan persoalan pendidikan dan pembiasaan-pembiasaan disiplin. Termasuk dalam hal penggalangan solidaritas sosial islamiyah. Firman Allah SWT, “Demikianlah (perintah Allah) dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu sesungguhnya timbul dari ketakwaan hati ( Q.S. 22 : 32). 
Dari segi kemampuannya menggalang kegiatan umat secara massif, dalam diskursus sosiologi agama, Ramadhan dapat menjadi penggerak emansipatoris di tengah-tengah monumentalitas umat. Emansipatoris, sebagaimana menurut James Hastings, dalam bukunya Encyclopedia of Religion and Ethic artinya suatu pembebasan dari hidup pembekuan intelektual (kebodohan), kemiskinan, pemihakan individu, kekuasaan, dan golongan. Dengan kata lain emansipatoris adalah gerakan bersama membebaskan kezaliman (penindasan), sifat individualism, dan aroganisme dalam upaya mewujudkan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat. 
Kita cermati bagaima Ramadhan menjadi lokomatif kegiatan rohaniah. Dengan tarawih bersama, secara psilologis umat didorong dapat melakukan temu sosial dan silaturahmi dalam batas dan lingkup kohesifitas masyarakat. Dengan kultum, umat sekali waktu diketuk dan disentuh batinnya dengan pesan pesan agama mengenai disiplin hidup, tentang persatuan, perdamaian, pencerahan dan perubahan hidup. Dengan diskusi umat diajak berfikir memperoleh wawasan rasional dan kreatif untuk memecahkan persoalan aktual kehidupan. Dengan menghimpun zakat, infak dan sedekah umat didorong bersatu padu menggalakkan kepekaan sosial dalam membantu kaum lemah (duafa) tanpa melihat latar belakang sosial dan kebudayaan. Pokoknya dengan mobilitas Ramadhan, momentum kegiatan keagamaannya sangat praksis dalam menggerakkan dan menggiring umat di atas kesatuan rohaniah, persamaan derajat kedudukan, dan hak hak bersama membebaskan penindasan (pembodohan dan pemiskinan). 
Inilah pentingnya kita lestarikan Ramadhan dalam nuansa emansipatoris. Pertanyaanya seberapa jauh nuansa ini dapat berjalan konsisten di tengah-tengah kehidupan umat. Amat disayangkan pembinaan Ramadhan yang begitu survive di masanya kini mati dan membeku kembali dalam sisa dan puing-puing realitas kehidupan umat terutama setelah masa Ramadhan berhenti. Nuansa pembiasaan menggalang hidup bersama yang dahulu sangat kolektif egaliter kini menyempit bersifat ad hoc dan rontok setelah umat memburu kepentingan sesaat. Hidup saling menghujat, mengadu domba dan mencela masih tetap bercokol dalam lembaga-lembaga yang seharusnya menjaga kedamaian dan saling tolong-menolong. Seperti kerap terjadi di partai politik, kantor maupun organisaasi sosial keagamaan. Teror bom masih saja terjadi oleh kelompok tertentu. Hidup saling tolong-menolong dan peduli umat tidak tumbuh karena anak yatim dibiarkan tidak sekolah dan tidak sedikit kaum elit mengusir para pengemis. Bahkan disiplin menghargai waktu di kantor-kantor tidak dilaksanakan karena para pegawai sering masuk kantor terlambat. Hidup selingkuh menyakiti suami dan istri masih terjadi di mana mana. Celakanya mereka masih memandang semuanya sebagai hal yang biasa dan lumrah terjadi dalam suatu kehidupan. 
Ironisnya nuansa hidup yang tidak emansipatoris ini justru masih terjadi pula dalam hal hal yang sangat sepele, misalnya umat masih meributkan perbedaan ritual yang bersifat furui’yyah. 
Suasana keberagaman semacam ini jelas merusak citra ibadah puasa dan bertentangan dengan tujuan, visi dan misi ibadah Ramadhan yang sangat emansipatoris. Untuk menghindari kondisi yang tidak kondusif bagi kehidupan keberagamaan masa depan, maka upaya menghidupkan semangat Ramadhan emansipatoris secara berkesinambungan merupakan suatu keniscayaan. 

Prof Dr H Fauzul Iman, MA 

Penulis adalah Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN SMH Banten

Punya Kemiripan Sejarah, Banten Bisa Belajar Dari Iran

Oleh : Prof. Dr. Fauzul Iman

 

Selama satu pekan mulai dari 14-1 Juli 007 Iran Cultural Centre (ICC) mengundang tokoh-tokoh Islam mengunjungi Iran. Salah satu rombongan itu adalah Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN SMH Banten Prof Dr Fauzul Iman. Kepada Radar Banten Fauzul mengisahkan perjalanan ilmiah tersebut. 
Rute kunjungan diawali dengan mengunjungi kota Qum, Teheran, yang merupakan kota kaum mullah (para ulama). Dalam sejarahnya, Qum terkenal sebagai pusat gerakan jihad ulama Iran. Di kota Qum inilah rombongan yang terdiri dari Prof Dr Fauzul Iman, Guru Besar UGM Prof Dr Amien Rais, Ketua MUI Pusat Dr Umar Sihab, mantan Menteri Pemberdayaan Wanita Tuti Alawiyah, pengurus PP Muhammadiyah Munawar Abbas dan rektor UGM, utusan Universitas Brawijaya, IAIN, dan Universitas Muhamadiyah diterima oleh para ayatullah (ulama besar yang memiliki keilmuan berderajat mujtahid). 
Para ayatullah menyambut kedatangan rombongan dengan ramah, terbuka, dan penuh persaudaraan. Mereka adalah ulama yang rata-rata berkapasitas pemikir genius. Mereka tidak hanya menguasai ilmu keagamaan, tetapi juga mumpuni dalam bidang keilmuan sekuler seperti bahasa Inggris, Sosiologi, Antropologi, Filsafat dan Matematika. Sebagian para ulama itu telah memperoleh gelar doktor dan profesor. 
Seiring dengan kapasitas yang dimilikinya, para ulama itu sangat militan, sederhana dan disiplin dalam memegang teguh aqidah dan idealisme keilmuan. Salah satu contoh yang menarik dari idealisme itu ialah obsesi mereka menentang dan melawan musuh Islam tidak dengan cara radikal tetapi dengan landasan rasional dan keilmuan. “Kita dari dunia Islam sudah saatnya membangun ukhuwah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi buat menangkis musuh yang kelewatan batas,” ucap ayatullah Talaqi, pemikir internasional Iran, ketika berbicara menyambut kedatangan rombongan tokoh Islam. 
Selain itu yang paling menarik adalah komitmen dan idealisme keilmuan seorang ayatullah Qum yang bernama Marashi Najafi. Selama 29 tahun ia megumpulkan naskah klasik (manuskrip) yang berusia ratusan hingga ribuan tahun. Tekadnya mengumpulkan naskah dipicu oleh orientalis barat yang memborong naskah Islam di Irak. Marashi menduga sang orientalis barat itu akan berniat menguasai ilmu Islam yang pada akhirnya menghancurkan peradaban Islam. Dari sinilah, ayatullah Marashi Najafi mulai tertarik dengan naskah (manuskrip) sehingga berusaha dengan sekuat tenaga mengumpulkan naskah itu dari berbagai negara Islam. 
Dengan niat ingin memajukan peradaban Islam, Marashi rela membeli naskah dari uang hasil jerih payahnya bahkan tidak sedikit mengorbankan uang demi memiliki naskah tersebut. Suatu ketika ia mau menunaikan ibadah haji, di tengah perjalanan ia melihat naskah yang sedang dijual. “Ketika itulah ia membatalkan ibadah haji. Ongkos hajinya digunakan untuk memborong naskah,” tandas Fauzul. 
Naskah-naskah yang telah dikumpulkan dan dibelinya itu kini disimpan dan dirawat dalam sebuah gedung megah dengan tanah berukuran enam ribu meter persegi berlantai lima ke bawah (lantai basement) dan tiga ke atas. Total naskah berjumlah 120.000 disimpan khusus di lantai lima basement. Menurut pengelolanya, Dr Awsathi, sebagai pustakawan naskah, lantai basement itu anti bom dan gempa berkekuatan 5 skala richter. Dari segi subjeknya naskah itu memuat bidang al-Qur’an yang ditulis tangan tanpa ada syakel dan titik, tafsir, hadis, ilmu kalam, filsafat, sejarah, sosilologi, antropologi, perbandingan agama, dan tentang ke iranan. 
“Bila kota Qum hendak dibandingkan dengan Banten, terdapat kemiripan dari segi heroisme sejarah dan nuansa religiusitas. Namun dari segi militansi keilmuan yang dibuktikan secara simbolik kultural dan praktis akademik masih jauh tertinggal dengan spirit para mullah Qum,” ujar Fauzul. 
Di Qum, para ulama dengan pusat organisasi pendidikannya, Hawzah Ilmiah, mampu mendirikan beratus-ratus lembaga pendidikan yang bertujuan mencetak mujtahid. “Sementara di Banten masih membutuhkan perjuangan keras, terutama dari segi komitmen dan tingkat kepedulian keilmuan para komponen Banten,” tandasnya. 
Di Qum, para ulamanya mampu menggalang dana sosial secara mandiri, utuh dan kompak. Beratus-ratus lembaga pandidikan dengan perangkat lunak dan kerasnya (fisik) telah dibangun secara mandiri oleh para ulama Qum. “Bantuan dari pemerintah memang ada tapi dukungan dan sikap kepedulian keilmuan pemerintah sangat tinggi,” ujrnya lagi. 
Di Banten keseriusan demikian baik para ulama maupun pemerintah belum mampu menggalang. “Oleh karena itu, penanaman keseriusan kepedulian ilmiah dan akademik di Banten selayaknya dipelopori oleh ulama dan pemerintah,” imbuhnya. 
Bila di Qum, para ulama dan pemerintah mampu merawat peradaban dan kebudayaan dengan mendirikan perpustakaan naskah, maka di Banten sudah sepantasnya didirikan institusi yang mampu mengakses peradaban kebantenan dan Islam. “Institusi itu bisa bernama ‘Bantenologi; yang berupaya dengan serius menggali dan merawat kepustakaan, naskah (manuskrip), serta peninggalan sejarah dan peradaban yang sangat berharga,” pungkasnya. 
Tingkat keharuan melestarikan peradaban agama antara Qum dengan Banten terdapat kemiripan. Dalam hal ini tampak pada upacara ziarah kubur di pemakaman orang-orang yang dipandang mulia dan terhormat. Di makam Imam Khomeini, para peziarah dengan penuh keharuan mengelu-elukan dan mengenang jasa kebesaran Khomeini. Para peziarah itu tidak sayang mengeluarkan uang dari koceknya dan dilempar ke dalam makam Khomeini hingga menutupi setengah makam tersebut. “Namun uang yang terkumpul itu tidak digunakan untuk kepentingan keluarga Khomeini, tetapi untuk membangun mesjid dan lembaga pendidikan,” ujarnya. Maukah Banten belajar dari Iran?